Boku no Blog - Arfi’an Fuadi dan M. Arie Kurniawan, kakak beradik ini berhasil menjadi juara pertama dalam 3D Printing Challenge yang diadakan General Electric tahun ini, mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.
Bahkan mereka berhasil mengalahkan peserta dengan gelar Ph.D dari Swedia yang menyabet peringkat kedua dan insinyur lulusan University of Oxford yang meraih juara ketiga.
Mereka bekerja dari rumahnya, dengan tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.
Keberhasilannya adalah memenangkan kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat.
Awal perkenalan dengan dunia desain enginering ini, mereka dapatkan setelah mencari pekerjaan melalui sebuah website yang menawarkan berbagai pekerjaan sebagai tenaga profesional freelance. Dari sinilah, mereka mulai menawarkan keahlian mereka membuat berbagai model barang melalui desain tiga dimensi yang mereka gabungkan dengan ilmu permesinan.
Hasil karya mereka ini menuai hasil puncaknya saat memenangi perlombaan internasional untuk membuat engin bracket atau alat penggantung mesin pesawat jet. Mereka mengalahkan tiga insinyur berpengalaman dari berbagai negara yang selama ini dikenal sebagai produsen pesawat terbang.
Menurut Arfi'an, persaingan di pasar global untuk desain enginering ini memang sangat ketat. Persaingan dengan desainer-desainer enginering internasional membuatnya merasa tertantang dan bersemangat untuk terus belajar serta berimajinasi menciptakan sesuatu yang berguna bagi dunia enginering.
Selain desain enginering, saat ini mereka juga tengah membuat proyek sendiri di rumah mereka yaitu sebuah pulpen tanpa tutup. Keistimewaan dari pulpen eksklusif ini adalah dari bahan pembuatannya yakni dari bahan titanium. Bahkan pulpen yang sudah diorder oleh warga Amerika ini diberi harga lebih dari seratus dolar per buahnya.
Untuk pengerjaan pulpen titanium ini, lagi-lagi dua kakak beradik ini hanya mengandalkan mesin bubut yang mereka buat sendiri dari limbah mesin bekas. Untuk mengatur model dan presisi hitungan mereka gabungkan dengan sebuah komputer yang mereka rakit sendiri dengan menggunakan casing kayu.
Meski dengan berbagai keterbatasan dana dan peralatan, saat ini dua bersaudara yang telah dibantu oleh 6 orang karyawan ini telah menunjukkan bahwa lulusan SMK Indonesia pun mampu bersaing di level internasional. Dengan ketekunan, saat ini mereka berburu dolar melalui ide-ide kreatif di dunia desain enginering.
news.viva
liputan islam
Bahkan mereka berhasil mengalahkan peserta dengan gelar Ph.D dari Swedia yang menyabet peringkat kedua dan insinyur lulusan University of Oxford yang meraih juara ketiga.
Mereka bekerja dari rumahnya, dengan tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.
Keberhasilannya adalah memenangkan kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat.
Awal perkenalan dengan dunia desain enginering ini, mereka dapatkan setelah mencari pekerjaan melalui sebuah website yang menawarkan berbagai pekerjaan sebagai tenaga profesional freelance. Dari sinilah, mereka mulai menawarkan keahlian mereka membuat berbagai model barang melalui desain tiga dimensi yang mereka gabungkan dengan ilmu permesinan.
Hasil karya mereka ini menuai hasil puncaknya saat memenangi perlombaan internasional untuk membuat engin bracket atau alat penggantung mesin pesawat jet. Mereka mengalahkan tiga insinyur berpengalaman dari berbagai negara yang selama ini dikenal sebagai produsen pesawat terbang.
Menurut Arfi'an, persaingan di pasar global untuk desain enginering ini memang sangat ketat. Persaingan dengan desainer-desainer enginering internasional membuatnya merasa tertantang dan bersemangat untuk terus belajar serta berimajinasi menciptakan sesuatu yang berguna bagi dunia enginering.
Selain desain enginering, saat ini mereka juga tengah membuat proyek sendiri di rumah mereka yaitu sebuah pulpen tanpa tutup. Keistimewaan dari pulpen eksklusif ini adalah dari bahan pembuatannya yakni dari bahan titanium. Bahkan pulpen yang sudah diorder oleh warga Amerika ini diberi harga lebih dari seratus dolar per buahnya.
Untuk pengerjaan pulpen titanium ini, lagi-lagi dua kakak beradik ini hanya mengandalkan mesin bubut yang mereka buat sendiri dari limbah mesin bekas. Untuk mengatur model dan presisi hitungan mereka gabungkan dengan sebuah komputer yang mereka rakit sendiri dengan menggunakan casing kayu.
Meski dengan berbagai keterbatasan dana dan peralatan, saat ini dua bersaudara yang telah dibantu oleh 6 orang karyawan ini telah menunjukkan bahwa lulusan SMK Indonesia pun mampu bersaing di level internasional. Dengan ketekunan, saat ini mereka berburu dolar melalui ide-ide kreatif di dunia desain enginering.
news.viva
liputan islam

